Monster with 21 Faces: Saat “Hantu” Meneror Industri Makanan Jepang dan Mempermalukan Polisi
Pernah nggak kamu ngebayangin sebuah kelompok kriminal yang nggak cuma merampok atau menculik, tapi sengaja “main-main” sama nyawa jutaan orang lewat permen yang kita makan sehari-hari? Di tahun 1984, Jepang mengalami teror yang bener-bener bikin bulu kuduk berdiri.
Kelompok ini menamakan diri mereka “Monster with 21 Faces” (Kajin Niijuuichi Menso), diambil dari nama penjahat dalam novel detektif terkenal karya Edogawa Ranpo. Ibarat pasukan Romawi di gambar tadi yang dikepung musuh dari segala penjuru, Kepolisian Jepang saat itu bener-bener dibuat kocar-kacir oleh musuh yang nggak pernah menampakkan wajahnya secara jelas.
Yuk, kita bedah kronologi teror mereka yang super aneh sekaligus mengerikan ini!
1. Penculikan Bos Glico: Awal dari Mimpi Buruk
Semua dimulai pada 18 Maret 1984. Dua orang bertopeng masuk ke rumah CEO Glico (pabrikan Pocky dan Pretz), Katsuhisa Ezaki. Mereka menculik Ezaki langsung dari bak mandinya! Nggak tanggung-tanggung, mereka minta tebusan 1 miliar Yen dan 100 kg emas.
Anehnya, Ezaki berhasil kabur beberapa hari kemudian. Tapi bukannya selesai, ini justru cuma “pemanasan”. Kelompok ini mulai mengirim surat-surat ke media dan polisi, mengejek kemampuan aparat yang menurut mereka sangat payah.
2. Teror “Permen Beracun” yang Bikin Geger Dunia
Inilah momen yang bikin rakyat Jepang ketakutan setengah mati. Kelompok ini mulai mengirimkan surat ke perusahaan besar lainnya seperti Morinaga dan House Foods. Isinya gila: mereka mengklaim telah menaruh permen yang dicampur sianida di rak-rak supermarket di seluruh Jepang.
Mereka bahkan dengan sombongnya kasih label di kotak permen tersebut: “Bahaya: Berisi Racun. Kamu bakal mati kalau makan ini.” Bayangkan betapa paniknya para ibu-ibu di Jepang saat itu. Jutaan kotak permen ditarik dari pasar, perusahaan rugi miliaran, dan kepercayaan publik hancur seketika.
3. Surat-Surat yang Mengejek: Polisi Dianggap “Bego”
Salah satu ciri khas “Monster” ini adalah hobi mereka menulis surat ke polisi dengan bahasa yang sangat meremehkan. Salah satu kutipan suratnya yang legendaris berbunyi:
“Dear polisi bodoh… Jangan bohong terus. Semua kejahatan dimulai dengan kebohongan, seperti kata pepatah di Jepang. Apa kalian nggak tahu itu?”
Mereka bahkan sering ngasih petunjuk palsu soal lokasi penyerahan uang, bikin polisi kejar-kejaran ke sana kemari cuma buat nemuin kotak kosong atau ejekan baru. Mereka seolah-olah lagi main petak umpet dengan taruhan nyawa jutaan orang.
4. Sosok “The Man with the Fox Eyes”
Satu-satunya titik terang dalam kasus ini adalah kemunculan seorang pria misterius yang terekam kamera CCTV di sebuah supermarket. Pria ini terlihat meletakkan kotak permen Morinaga di rak lalu pergi begitu saja.
Saksi mata yang pernah melihatnya mendeskripsikannya sebagai pria dengan “mata seperti rubah” (Fox-eyed man). Polisi sempat hampir menangkapnya dalam sebuah operasi penyerahan uang di kereta api, tapi si “Rubah” ini berhasil menghilang di tengah kerumunan stasiun. Licin banget!
5. Tragedi dan Akhir yang Mendadak
Kasus ini berakhir dengan tragis, tapi bukan bagi si penjahat. Superintendent Shoji Yamamoto dari Kepolisian Prefektur Shiga merasa sangat gagal karena nggak bisa menangkap si penjahat setelah bertahun-tahun. Pada Agustus 1985, Yamamoto memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara membakar diri sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Nggak lama setelah kejadian itu, Monster with 21 Faces mengirimkan surat terakhir mereka:
“Yamamoto mati seperti laki-laki… Kami memutuskan untuk berhenti menyiksa perusahaan makanan. Jika kami terus melakukannya, daftar kejahatan kami bakal terlalu panjang. Kami adalah orang jahat, tapi kami punya hal lain yang harus dilakukan.”
Dan sejak saat itu, mereka benar-benar menghilang.
6. Kenapa Kasus Ini Tak Terpecahkan?
Tahun 2000, masa kedaluwarsa (statute of limitations) kasus ini resmi berakhir. Artinya, meskipun sekarang si “Monster” menyerahkan diri, mereka nggak bisa dihukum secara hukum.
Banyak teori bermunculan: Apakah mereka mantan karyawan yang sakit hati? Kelompok Yakuza? Atau mata-mata negara lain? Nggak ada yang tahu pasti. Mereka berhasil melakukan kejahatan sempurna yang menghancurkan ekonomi Jepang tanpa pernah tertangkap satu orang pun.
Kesimpulan
Misteri Monster with 21 Faces adalah pengingat bahwa terkadang, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang datang dengan zirah dan pedang seperti prajurit Romawi, melainkan mereka yang bergerak dalam bayang-bayang dengan pulpen dan kecerdasan yang jahat. Mereka tidak cuma mencuri uang, mereka mencuri rasa aman sebuah bangsa.
Gimana menurutmu? Apakah si “Rubah” ini masih hidup di suatu tempat di Jepang sekarang? Atau mereka sebenarnya sudah lama meninggal membawa rahasianya ke liang lahat? Tulis pendapatmu di kolom komentar ya!

